22.8.08

Following the Crowd - Jakarta 2008

Pada setiap hari kerja, di tahun 2008 ini aku memiliki kewajiban baru .... pergi ke Kantor :=)) kegiatan yang sangat jarang kulakukan sejak tahun 2001. Belajar, memilih, mempraktekkan dan melihat hasil penentuan use Flag akhirnya menjadi barang mewah kini.

Rutinitas
Hampir pada setiap hari kerja, dipaksa menyusuri jalan-jalan kota jakarta dari Cikunir ke Cempaka Mas. Berbagai jalur alternatif ditempuh hasilnya sama, harus rela menghabiskan sekitar 90 menit di tengah lalu lintas yang luar biasa amburadhulnya. Hampir di setiap pagi hari pada hari kerja, orang paling waras sekalipun bisa menjadi agak sinting bila sedang berkendara di Jakarta. Pengendara kendaraan roda dua, memacu seakan tidak ada lagi esok hari. Pengendara kendaraan roda empat sangat suka memotong haluan, antri seolah sudah diharamkan.

Biasanya berangkat ke kantor pukul 09.00 tapi tiga minggu terakhir ini memutuskan berangkat lebih pagi pada kisaran pukul 07.30 Jarak tetap yang harus ditempuh sekitar 22 KM. Dihitung sejak mesin pertama berderum sampai menggeser persneling ke huruf P (menggunakan persenelling otomatis) rata-rata waktu tersita 90 menit. Artinya mobil sekelas dibawah ini hanya mampu mencapai tingkat kecepatan rata-rata sekitar 14.67 KM per JAM. Kejadian ini sama persis bila dijalani di sore hari pada pukul 19.00, dan ini terjadi di Kota Jakarta pada tahun 2008.



Meskipun terbilang tua, menurut buku dan percobaan mobil tsb masih mampu menempuh kecepatan sampai dengan 130 KM per Jam, bila dihitung jam berputar mesin, maka mesin 1800 CC ini akan mengkonsumsi sekitar 6-9 liter per Jam (tergantung beban poros utama mesin). Artinya lalu lintas Kota Jakarta telah mendegradasi capaian teknologi menjadi lelucon saja. Karena dalam hal KECEPATAN kendaraan yang lazim dikendarai sehari-hari Kota Jakarta telah MUNDUR SELAMA 100 TAHUN karena konon pada tahun 1908 kendaraan roda empat sejenis dibawah ini, di Jakarta mampu bergerak dengan kecepatan 15 - 20 KM per JAM



Dalam hati jadi berpikir, semua pembeli mobil di jakarta rata-rata orang bodoh, karena membeli barang mahal dan masih terbilang mewah tapi fungsinya setara dengan situasi 100 tahun lalu dalam hal kemampuan kecepatan rata-rata. Jadi hampir tidak ada manfaat nyata mengembangkan dan meproduksi mesin mobil dengan kemampuan menempuh kecepatan tinggi 100-150 KM per JAM bila lokasi mobil tsb sehari-hari dipergunakan menempuh lalu lintas Jakarta.

Bila para pengembang open source mampu mengembangkan produk "AUTO PILOT" yang bisa dipasang pada mobil dan menyuguhkan kemampuan mobil yang Bisa dikendarai sambil menganthuk dipastikan para produsen mobil akan bersedia membelinya, karena masyarakat di kota Jakarta akan rame-rame membeli mobil jenis ini untuk menopang aktifitas mereka sehari-hari.

siapa suruh datang ... Jakarta ...

2 comments:

  1. la yo sopo pak sing kon ning jakarta?
    aku wes neng jogja :D
    moga2 iso memabngkitkan ubuntu local
    hehehe...

    ReplyDelete
  2. Wah Pa'e sih malah melawan tanda-tanda zaman kikiki.. yang lain pada minggat dari Jakarta sebelum tenggelam, eh malah ke Jakarta :)

    Hmm tapi siapa tau ada hikmahnya, yang normal katanya bisa jadi stress, siapa tau Pa'e bisa jadi normal malah :)

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.